Tuesday, August 21, 2012

Gereja di Tengah Pergumulan Jaman



(Komentar mengenai ASG)
     Kita melihat bahwa ketidakadilan ada dimana-mana. Lalu, orang melihat bahwa yang patut disalahkan yaitu Allah. Pernyataan ini dibenarkan karena mulai dari Nietzche sampai dengan filsuf post-modernisme, menyatakan bahwa Allah itu sudah tidak ada. Penulis jadi teringat mengenai seorang pemuda yang datang ke salon untuk dicukur lalu, pemuda ini mempermasalahkan ketidakadilan yang ada di dunia ini. Lalu, tukang cukur itu berkata: "Seperti halnya orang yang urakan di jalan, tidak semua orang urakan mencari saya. Sama halnya dengan ketidakadilan."
     Penulis mengerti bahwa harus cukup lama meresapkan cerita ini, karena cerita ini kaya dengan makna. Dan dengan ketidakadilan, Gereja ingin berjalan bersama dengan kaum yang terpinggirkan. Pernah teman saya bertanya mengapa Gereja hanya peduli pada yang miskin material saja, tetapi tidak berpikir mengenai yang miskin rohaninya. Saya kira dia belum sepenuhnya mengerti mengenai ketidakadilan yang benar-benar terjadi. Bahwa mayoritas 'warga' Kerajaan Allah adalah mereka yang tertindas. Oleh karena itu prefential option for poor harus menjadi nyata ditengah masyarakat.
     Sebenarnya ada 2 pokok masalah yang bisa ditelaah lewat celah analisis. Model pertama yaitu konflik dan model yang kedua yaitu konsensus. Cara yang lebih radiikal adalah lewat model konflik karena dalam penelaahannya, orang yang berada di puncak disalahkan karena menjadi penyebab kemiskinan. Kemiskinan yang membuat martabat manusia direndahkan.
     Gereja selalu paham akan perasaan mengenai martabat manusia. Dan kalau saya merangkum semua ajaran sosial gereja dengan satu kata yang saya buat maka, martabat manusia menjadi labuhannya. Mengapa martabat manusia menjadi sangat penting? Karena dari ensilik Rerum Novarum sampa dengan Cantetismus Annus, terlebih martabat manusia ditonjolkan. Dari martabat itu bisa digambarkan mengenai keadaan kerja manusia, dan juga asas keadilan sebagai warga Allah dan warga masyarakat.
     Terakhir, apa yang harus dilakukan oleh ku menyikapi ajaran sosial Gereja. Saya terkesan bagaimana orang berusaha untuk senantiasa mengembangkan imannya secara bertanggung jawab. Masa-masa muda yang gembira haruslah diisi dengan suatu pengalaman kasihNya. Caranya bisa lewat bermacam-macam. Yang penting adalah bagaimana kita menyikapi sebagai manusia yang semakin memanusiakan diri baik rohani maupun jasmani. Ad Maioreim Dei Gloriam

No comments:

Post a Comment