Saturday, March 24, 2012

Bincang-bincang masalah Kematian

             Ketika orang berbicara tentang kematian, yang ada di benak kita yaitu sepotong kuburan yang penuh dengan kedinginan dan juga penuh dengan tulang belulang. Namun, menurut Katolik kematian yang begitu menakutkan adalah salah satu sarana untuk bersatu dengan Kristus Yesus. Malam ini, saya datang ke tempat nenek yang ada di seberang blok. Nenek ini begitu masih bersemangat, karena malam ini beliau berulang tahun ke 93. Nenek ini begitu saya kenal. Sebelum dibaptis menjadi Katolik saya mengajarinya untuk berdoa rosario dan itu merupakan suatu kesenangan tersendiri. Malam ini juga, saya terharu ketika diminta untuk memimpin doa makan. Pada artikel ini bukan masalah nenek ini yang saya bicarakan, namun mengikuti Kristus sampai pada kematian.
              Saya masih ingat dengan cerita murid-murid katakombe. dalam ceritanya yang diterbitkan oleh Dioma diceritakan pengalaman keteguhan iman menjadi seorang Katolik pada masa pengejaran oleh Kaisar Nero (Roma), kaarena Katolik belum menjadi suatu agama resmi negara tetapi diajarkan dari mulut ke mulut dan turun temurun. Saya bisa belajar bahwa menjadi seorang Katolik membutuhkan perjuangan bahkan dikejar-kejar oleh negara. Perjuangan ini dalam ceritanya semakin menjadi nyata jika orang Roma dibaptis dalam darah (istilah katekismus gereja) yaitu mau menyerahkan diri menjadi saksi Kristus.
               Kita tentu saja masih bisa berefleksi tentang kehidupan yang diberi oleh ALLAH, YAHWH. Kadang kita tidak memberikan diri sepenuhnya kepada Allah, kecendurungan untuk menolak bahkan untuk melupakan Yang Kekal. Kehidupan yang diberikan kepada kita (bahkan umur panjang) harus kita sikapi dengan arif. Bahkan, sampai kita mengetahui bahwa muara terakhir dari hidup ini yaitu kematian, kondisi kita bersatu dengan Kristus.
               Akhirnya, kematian bukan lagi dipandang sebagai sesuatu yang menyeramkan untuk dimengerti, menyeramkan untuk dibayangkan. Tetapi, bahwa kematian merupakan saat kita untuk disucikan kembali (dalam bahasa teologis disebut juga purgatori). Ada anekdot yang mengatakan orang Belanda salah dalam mengartikan purgatori menjadi kata api. Jadi disebutlah api penyucian. Memang terdengar seram, ngeri. Ada kalanya kita perhatikan makna purgatori. Purgatori ibaratnya adalah kalau mobil belum bersih, dibersihkan dulu supaya layak untuk dipakai 'majikan'. Beranikah kita untuk dicuci terlebih dahulu??

berlanjut....

No comments:

Post a Comment